Terbengkalaikah Syekh Yusuf Discovery?


Syekh Yusuf Discovery bukanlah hal yang asing bagi orang Sungguminasa. Saya malah cukup hafal bagaimana perkembangan tempat ini. Dari kecil, saya sering diajak orang tua untuk pergi ke tempat bermain di sekitar Lapangan Syekh Yusuf, saat itu nama tempat bermainnya adalah Bianglala. Seiring waktu, tempat bermain ini dipindahkan dari sebelah utara lapangan ke sebelah selatan. Walaupun areanya tidak sebesar yang dulu, tempat bermain sekarang lebih tertata rapi dan nyaman bagi anak-anak.

Sumber: http://news.rakyatku.com/read/23852/2016/10/12/di-tangan-adnan-lapangan-discovery-syekh-yusuf-kini-lebih-tertata
Selain karena tempat ini menyediakan fasilitas yang lengkap seperti taman bermain, lapangan olahraga, jogging trek, lapangan basket, badminton, dan beberapa fasilitas olahraga lain, pengunjung juga tidak dikenakan biaya untuk menikmati semua fasilitas.

Ruang terbuka publik ini punya peran penting dalam keseharian warga Sungguminasa. Area Lapangan Syekh Yusuf jugalah yang berdasarkan pengamatan saya paling banyak dikunjungi ketika hari minggu di Sungguminasa. Selain karena fasilitasnya yang lengkap dan gratis, banyak juga pedagang makanan sampai pakaian yang menempati jalan di sekitarnya. Pedagang hanya dibolehkan menaruh barang dagangannya di jalan pada hari minggu pagi. Karena di hari itu, sebagian jalan ditutup untuk mobil. Mirip-mirip Car Free Day di Jakarta atau di Pantai Losari, tapi dalam skala kecil.
    
Ada satu bagian dari ruang terbuka publik ini, yaitu Bangunan Patonro (saya sebut bangunan Patonro karena bentuk bangunannya didesain memang mirip topi/ikat kepala patonro, topi/ikat kepala khas Kerajaan Gowa yang dipakai Sultan Hasanuddin). Terdapat papan reklame di depannya yang menegaskan kalau bangunan ini difungsikan sebagai taman baca. Padahal tak terlihat satupun orang yang membaca di dalam maupun di luar bangunan.

Halaman di sekitar Bangunan Patonro sangat luas sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat melakukan banyak aktivitas. Sayangnya, berdasarkan observasi saya bersama teman-teman dari PWK UNHAS 2016, keadaan halaman tersebut sangat memprihatinkan, seperti rumput-rumput yang sudah meninggi dan tembok bangunan penuh coretan. Beberapa tempat di sekitar bangunan tersebut juga ditemukan pasangan muda-mudi berseragam sekolah bermesraan dan banyak sampah bekas lem kuning. Ini sangat kontras dengan pemandangan di sekitarnya dimana terdapat tempat bermain anak dan tempat olahraga yang tertata rapi. 


Sejak saya SD, tempat ini memang sering jadi bahan cerita saya bersama teman-teman yang beberapa pernah melihat sepasang muda-mudi pacaran di atas Bangunan Patonro, bahkan bisa dibilang "kelewat batas". Walaupun sempat direnovasi beberapa tahun lalu, keadaannya kembali memprihatinkan. Cerita tentang pasangan "mesum" di tempat ini masih ada sampai sekarang.
     
Mungkin sekarang kita bisa sedikit bernafas lega, karena Bupati yang baru dilantik sudah menunjukkan keseriusannya untuk menata area ini. Pak Bupati sudah meninjau sekitar Syekh Yusuf Discovery. Terlihat juga di bagian belakang Bangunan Patonro ini mulai dibangun jalur hijau dan beberapa renovasi dilakukan. Tapi mengharapkan semuanya ke pemerintah tidaklah cukup, kita sebagai masyarakat juga harus peduli terhadap ruang publik karena kita yang memanfaatkannya menjadi tempat rekreasi dan melakukan aktivitas bersama seperti saling berinteraksi. Ruang terbuka publik yang layak dan tertata dengan baik juga dapat meningkatkan indeks kebahagiaan dan kreatifitas masyarakat. Apalagi Bangunan Patonro ini ingin dimanfaatkan sebagai taman baca, hal yang sangat baik dan perlu didukung karena banyak penelitian menyatakan bahwa minat baca orang Indonesia sangat rendah. Jangan sampai ruang terbuka publik kita menjadi tempat yang tidak bermanfaat atau malah menjadi tempat melakukan penyimpangan sosial. Sekali lagi, ayo peduli ruang publik!

Salam alay dari kami di atas Bangunan Patonro

Pentingnya Dialog

Sumber: https://www.merdeka.com/jakarta/7-kisah-sukses-jokowi-tata-pedagang-di-solo.html
Cerita tentang Jokowi menata Pedagang Kaki Lima (PKL) di Solo bisa jadi bukti berhasilnya pendekatan partisipasi masyarakat dalam menata suatu kawasan. Padahal kita sama-sama sering menyaksikan bagaimana penggusuran PKL diwarnai kekerasan. Beliau justru mengajak para PKL untuk makan bersama. Relokasi bukan karena keinginan Pak Jokowi sendiri. Setelah pelantikan, beliau langsung membentuk tim untuk melakukan survey mengenai apa yang warga Solo inginkan. Salah satu keinginan warga Solo adalah PKL ditertibkan, apalagi PKL di Monumen Banjarsari. Meskipun Pak Jokowi menganggap bahwa PKL adalah potensi perekonomian, keinginan warga Solo juga harus didengarnya.

Meninggalkan kebiasaan lama yang sering kita lihat dimana penggusuran selalu menggunakan kekerasan, aparat, gas air mata, beliau justru melakukan pendekatan komunikatif yang sangat bagus. Tak tanggung-tanggung, Pak Jokowi justru melakukan dialog dengan para PKL dengan acara makan bersama sebanyak 54 kali. Bahkan di awal pertemuan antara Pemkot dengan PKL, Pak Jokowi tak langsung membicarakan tentang relokasi. Beliau terlebih dahulu membangun kepercayaan para PKL dengan acara makan-makan yang santai. Pak Jokowi pun berusaha memenuhi semua permintaan para PKL, seperti ketika PKL merasa takut kehilangan pelanggan. Beliau pun berjanji promosi besar-besaran pemindahan PKL melalui media cetak dan channel televisi lokal.

Dialog meja makan ini berhasil membuat 989 para PKL membongkar lapaknya sendiri dan pindah ke Pasar Klithikan Notoharjo dengan ikhlas dan senang hati. Bagaimana tidak, proses pemindahan nya pun meriah dengan diiringi arak-arakan sepanjang jalan. Solo membuktikan bahwa cara-cara humanis dapat menyelesaikan persoalan dengan baik. Kota lain kapan?

Orang bilang, saya berhasil memindahkan PKL karena mereka diajak makan.. Padahal tidak seperti itu. Saya ini hanya berusaha nguwongke wong (memanusiakan manusia).