Pentingnya Dialog

Sumber: https://www.merdeka.com/jakarta/7-kisah-sukses-jokowi-tata-pedagang-di-solo.html
Cerita tentang Jokowi menata Pedagang Kaki Lima (PKL) di Solo bisa jadi bukti berhasilnya pendekatan partisipasi masyarakat dalam menata suatu kawasan. Padahal kita sama-sama sering menyaksikan bagaimana penggusuran PKL diwarnai kekerasan. Beliau justru mengajak para PKL untuk makan bersama. Relokasi bukan karena keinginan Pak Jokowi sendiri. Setelah pelantikan, beliau langsung membentuk tim untuk melakukan survey mengenai apa yang warga Solo inginkan. Salah satu keinginan warga Solo adalah PKL ditertibkan, apalagi PKL di Monumen Banjarsari. Meskipun Pak Jokowi menganggap bahwa PKL adalah potensi perekonomian, keinginan warga Solo juga harus didengarnya.

Meninggalkan kebiasaan lama yang sering kita lihat dimana penggusuran selalu menggunakan kekerasan, aparat, gas air mata, beliau justru melakukan pendekatan komunikatif yang sangat bagus. Tak tanggung-tanggung, Pak Jokowi justru melakukan dialog dengan para PKL dengan acara makan bersama sebanyak 54 kali. Bahkan di awal pertemuan antara Pemkot dengan PKL, Pak Jokowi tak langsung membicarakan tentang relokasi. Beliau terlebih dahulu membangun kepercayaan para PKL dengan acara makan-makan yang santai. Pak Jokowi pun berusaha memenuhi semua permintaan para PKL, seperti ketika PKL merasa takut kehilangan pelanggan. Beliau pun berjanji promosi besar-besaran pemindahan PKL melalui media cetak dan channel televisi lokal.

Dialog meja makan ini berhasil membuat 989 para PKL membongkar lapaknya sendiri dan pindah ke Pasar Klithikan Notoharjo dengan ikhlas dan senang hati. Bagaimana tidak, proses pemindahan nya pun meriah dengan diiringi arak-arakan sepanjang jalan. Solo membuktikan bahwa cara-cara humanis dapat menyelesaikan persoalan dengan baik. Kota lain kapan?

Orang bilang, saya berhasil memindahkan PKL karena mereka diajak makan.. Padahal tidak seperti itu. Saya ini hanya berusaha nguwongke wong (memanusiakan manusia).

Katanya Disini Sudah Sering Diukur



Pikiran saya sedikit terusik ketika mendengar kalimat itu. Kalimat itu diucapkan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang berkumpul melihat kami melakukan pengukuran jalan di sekitar rumahnya. Ukuran jalan yang kita dapatkan ini menjadi data pendukung dalam tugas mata kuliah proses perencanaan. Kebetulan kelompok kami mengambil isu pemukiman kumuh. Apakah gerangan mereka mengatakan hal demikian? Saya tak tahu pastinya, tapi sebagai mahasiswa semester dua Perencanaan Wilayah dan Kota, saya menyimpulkan jika mereka sangat menunggu hasil dari orang-orang yang mengukur jalan di tempat tersebut, mungkin perbaikan jalan, mungkin juga pemberian bantuan. Entah mahasiswa atau petugas dari pemerintah yang melakukan pendataan, intinya mereka sangat mengharapkan bantuan.

Kondisi fisik
Dilihat dari keadaan fisik pemukiman tersebut memang sangat memprihatinkan. Material bangunan mayoritas rumah hanyalah kayu dan seng. Drainase dan sanitasi bermasalah. Kebanyakan warga tidak dapat menikmati toilet seperti yang kita-kita punya di rumah. Mereka hanya memiliki satu WC umum dan menurut pandangan kami dalam satu kelompok tugas, kondisinya sangat tak layak.

Yang mereka katakan sebagai WC umum
Sangat dimaklumi memang jika mereka sangat mengharapkan bantuan. Pertanyaannya, apakah kita yang sudah mendata atau melakukan penelitian di tempat seperti itu apakah benar-benar ingin membantu? Ataukah hanya sekadar agar mendapat nilai karena berhubungan dengan tugas kuliah? Ataukah hanya sekadar laporan di pemerintahan jika ada masalah tapi tidak ditindaklanjuti? Saya tidak tahu karena ilmu saya belum cukup. Tapi satu hal yang pasti, saya melakukan pendataan hanya sekadar untuk mendapat nilai dikarenakan berhubungan dengan tugas kuliah. Maafkan saya, Pak, Bu.